Agar Guru tak sekdar mengajar

Agar Guru tak sekedar Mengajar
Oleh Burhanuddin, diterbitkan dibuletin Tazkirah, Ikadi Aceh
“Menurutmu, adakah yang lebih agung?
Dari orang yang membina dan menumbuhkan jiwa serta akal?”
Seorang penyair Arab bernama syauqi menggugah penggalan syair diatas dalam menggambarkan sosok orang agung, agung dalam kemuliaanya. seorang yang agung bukanlah yang kaya raya dengan limpahan harta, jabatan nan tinggi. Akan tetapi isyarat sauqi dalam syairnya ini merupakan sanjungan bagi siapa yang mampu membina dan menumbuhkan jiwa serta akal, siapa lagi yang dimaksudkan disini jika bukan orang yang mulia pula, itulah guru, guru yang telah berjasa dan berpengaruh dalam menumbuhkan akal manusia sepanjang masa. Sungguh kemuliaan guru ini tak sekedar sanjungan penyair Arab yang bernama syauqi itu, disemua bangsa, disetiap zaman dan disepanjang sejarah manusia yang namanya guru punya pengaruh besar. Tak terlepas dalam sejarah Islampun mencatat, bahawa guru memiliki kemuliaan yang tinggi. Nabi Muhammad saw, sebagai sosok teladan bagi semua, juga melakukan tindakan yang sangat menentukan arah kemajuan Negara Madinah ditahun kedua Hijriah, sebagai syarat untuk bebas, tawanan perang Badar  dengan cara mengajari membaca dan menulis kepada anak-anak kaum muslimin. Namun apa yang terjadi sebaliknya, banyak diantara mereka yang masuk Islam mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah swt.
Guru yang memiliki peranan penting dalam membentuk kepribadian murid, sehingga dalam hal ini bisa dijadikan salah satu tolak ukur arah kemajuan bangsa dan Negara. Betipa tidak Negara Jepang yang maju sekarang berawal dari pengaruh guru, Itulah sebabnya tatkala Jepang luluh-lantak akibat Bom Dahsyat yang melanda Nagasaki dan Horishisma, kaisar jepang tidak menanyakan harta dan kerugian yang menimpa, kaisar dengan tertegun bertanya kepada rakyatnya, berapa guru yang masih hidup? Sungguh pertanyaan inilah yang menjadikan Jepang lebih maju dan menjadi negara kuat dizaman modern ini. Dalam hal ini jepang memakai “cara” Nabi setelah perang Badar, Namun bagaimana kondisi kaum muslimin sekarang? Bukankah sebagian Negara-negara muslim sedang bergejolak, Tunisia, Mesir, libia, Suriah, Yaman, dll, adakah diantara Pemimpin negeri muslim yang khawatir? Menanyakan berapa guru yang masih tersisa dari akibat perang? Kita sendiri tahu keadaan inilah yang  sangat mengiriskan hati, sementara musuh-musuh kaum muslimin tertawa lepas menyaksikan kaum muslimin berperang sesamanya. Disinilah perlunya kepemimpinan muslim untuk menentukan sikap tegasnya bagi dunia, terlebih perhatian besar dalam dunia pendidikan Islam secara menyeluruh. agar kemuliaan itu kian mendekat, maka tanyakanlah bagaimana keberadaan guru ditengah-tengah kaum muslimin saat ini!.
Sudah seharusnya saat ini, dunia Islam memanggil, menanyakan keberadaan guru, jika ingin esistensinya diakui, jika tidak sunguh akan terus terpuruk. Maka tak wajar kiranya kemuliaan itu diraih oleh mereka yang tak berIslam itu. Islam menempatkan seorang yang berilmu lebih tinggi beberapa derajat, tentunya seorang yang berilmu disini punya peran sebagai seorang yang ‘alim yang mengajar, membimbing dan membina generasi berikutnya. Guru sebagai pewaris Nabi dan Rasul, memiliki peran dalam menyeru menusia untuk mengerjakan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, sebagaimana yang dimaksudkan dalam al-qur’an Surat an-Nahl ayat 125,yang artinya:
Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat daripada jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dari itu, tugas dan peran guru, sangat kentara dalam menyampaikan kebaikan-kebaikan, kepada masyarakat dan seluruh murid-muridnya, sehingga tugas guru tidak hanya mentrasnfer ilmu pengetahuan, akan tetapi menjadi pendidik, yang mampu membentuk kepribadian manusia yang paripurna, dan berkhalak mulia. Siapapun yang telah punya amanah sebagai seorang guru, ia telah mewarisi sebuah risalah perjuangan para Nabi, Rasul yang telah Allah angkat derajat mereka lebih tinggi diantara mukmin lainnya. Tugas mulia ini, sungguhlah tak pantas kiranya, jika seorang guru hanya masuk mengajar, memberikan buku, diktat dan menyuruh siswa untuk mencatat dan mengerjakan soal-soal latihan hanya dengan target lulus UN dan KKM. Apatah lagi guru yang telah disertifikasi, tanggungjawabnya tak sekedar mengajar 27,5 Jam/minggu, namun jauh dari amanah ilmu yang harus disampaikan jauh lebih besar dari tunjangan Sertifikasi yang telah didapat.
            Sungguh mulianya guru dalam Islam, pendidikan, dan dimata manusia. Sehingga gerak laku Guru Pendidikan Islam senantiasa menjadi perhatian semua orang, sekolah ataupun murid-muridnya. Maka di sinilah peranan mereka untuk cuba menonjolkan akhlak Rasulullah saw, baik dari sudut percakapan, pakaian, pergaulan malah gaya berjalan pun senantiasa menjadi buah mulut orang/murid-muridnya, Inilah yang dikatakan sebagai dakwah dengan contoh teladan, dakwah bilhal. Guru yang memberikan teladan yang baik, dikenal santun dan berkarisma niscaya ia akan terus dikenang jasa-jasanya. Kehadiran guru ke kelas pasti dinanti oleh murid, ditunggu-tunggu. malah terlambat lima menit datang kelas pun akan diingatkan oleh murid-muridnya, inilah cirri kemuliaan yang ada pada sosok guru yang bersahaja. Dengan demikian menjadi guru memiliki tuntutan untuk memberi keteladanan dalam melakukan sesuatu yang disampaikannya, sehingga kedudukannya dalam bidang ilmu mudah ditiru oleh muridnya dan siapapun yang mendengarnya, karena bisa langsung melihat apa yang dikatakan oleh gurunya sesuai dengan perkataannya.
Terus Membekali Diri
Sebagai seorang manusia yang normal, seorang guru tak lepas dari kekurangan dan dan kealpaan, namun hal ini tak sewajarnya terus-menerus menjadi sebuah pembenaran ketika permasalahaan guru menimpa dirinya. Alangkah ‘Arifnya seorang guru untuk terus-menerus mengoreksi, kekurangan dan mengevaluasi diri sendiri. Dengan demikian guru tak seharusnya merasa lebih, kuasa dan yang paling tahu dalam meberikan pelajaran kepada siswa, sehingga siswapun senang dan merasa terhibur disaat guru mengajar mereka meminta tanggapan yang benar diberikan siswa ketika mereka mengoreksi kesalahan guru. Guru/dosen mungkin bisa unggul dari segi pengalamannya melalui banyaknya jam terbang mengajar diluar dengan honor yang tinggi, namun melupakan tugas mulia untuk membina, mendidik dan mengarahkan siswa untuk terus belajar. Tentulah bagi guru yang mendidikasikan dirinya haruslah menarik dan menghibur siswa, disetiap gerik dan aktivitas disekolah haruslah memiliki value (nilai) dan memilik artin kehadiran guru bagi muridnya. Kreasi-kreasi guru hari inilah yang akan menentukan arah bangsa dan Negara dimasa depan, maka tak salah kiranya jika guru hari inilah memegang kunci peradaban bangsa.
Pada hakikatnya murid cenderung menyukai profil guru yang menghibur, energik, memotivator siswa, yang bisa menyusun rencana-rencana yang menghibur, yang mampu membuat improvisasi-improvisasi dalam setiap interaksi belajar. Melakukan inovasi-inovasi yang tidak membosankan, yang memberikan ruang atau kesempatan untuk melatih kemampuan mereka dalam berkreasi dan melaksanakan rencana-rencana pembelajaran yang elegan dan tebarukan. Dengan demikian murid akan respek terhadapnya dan memperhatikan saran-sarannya. Secara otomotis murid akan mengahargai guru seperti ini sebagaimana ia telah memperlakukan mereka layaknya manusia. Bagaimana kiranya, sebaliknya?  Sungguh pataskah kiranya diakhir bulan, intensif dan tunjangan dinas lainnya diambil guru? Sementara murid-murid yang diajarkannya tak paham, bingung, bahkan “merasa bersyukur” ketika guru tersebut tak masuk kelas untuk mengajar.
mudah-mudahan guru-guru hari hari ini tidak begitu,,!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERAN GURU PENDIDIKAN ISLAM

IAIN Menjadi UIN Tanggungjawab Siapa?

Menyelami Kata Didik