Menulis ulang sejarah BEMAF-Tarbiyah Dalam pergulatan pergerakan Mahasiswa IAIN ar-raniry (periode 2005-2010)
Menulis ulang sejarah BEMAF-Tarbiyah Dalam pergulatan pergerakan
Mahasiswa IAIN ar-raniry (periode 2005-2010)
Oleh: Burhanuddin Al-Khairy (Gubernur BEMAF-Tarbiyah 2010)
Pergerakan mahasiswa merupakan sebuah keniscayaan dalam pertarungan
kekuatan intelektual dalam pengaplikasian konsep tridarma perguruan
tinggi yang kemudian dapat diartiakan sebagai pembelajaran politik
bagi mahasiswa. Aktivitas kemahasiswaan mencakup keseluruhan tatanan
nilai yang berhaluan dari pemahaman ilmu yang dimiliki, bergumul
menjadi sebuah arus perubahan dalam sebuah komunitas. Komunitas kampus
sebagai salah satu basis pergerakan mahasiswa menggambarkan
kepribadian dari produk intelektualitas perguruan tinggi, baik itu
disaat sedang berproses maupun ketika telah menjadi hasil sebagai
alumni. BEMAF-Tarbiyah merupakan pencitraan sebagai data auntentik
untuk mengetahui arus yang me-riak-an pergulatan mahasiswa dalam
menjadi control social melalui lebel aktivis atau dengan bahasa lain
sebagi Agent of change. Strukturisasi sebagai komponen penyusun
BEMAF-Tarbiyah terdiri dari berbagai mahasiswa yang berpengetahuan
mendalam dan berlatar belakang yang tidak sama, sehingga dinamika
pergerakan kampus seiring dengan kepaduan individualitas yang berjiwa
aktivis, sayap kiri atau kanan. Dengan demikian wajah kampus berwarna
dari bentuk corak idealitas mahasiswa yang bertarung melalui sarana
yang disebut demokrasi.
Di penghujung tahun 2005, setelah setahun musibah bencana Tsunami
melanda negeri ini, organisasi kampus sedikit mulai mapan untuk
berbenah diri kembali yaitu BEMA IAIN Ar-Raniry, UKM, dan juga tidak
terlepas BEMAF-Tarbiyah. Pergulatan mahasiswa Tarbiyah dalam
pertarungan pencalonan Presma IAIN Ar-Raniry kembali mewarnai sejarah
kelam pergerakan internal Mahasiswa di IAIN Ar-Raniry, dimana pada
waktu itu ketika salah satu kandidat Presma (Zuanda, TEN 2002 yang
berbasis ADK) yang berasal dari Fakultas Tarbiyah, menjadi kandidat
presma yang di unggulkan Mahasiswa. Ketidakterimaan beberapa aktivis
Fakultas Dakwah, Adab dan Syari’ah dengan hasil menang telak di TPS
Tarbiyah yang didominasi kader Dakwah Kampus, mengakibatkan 2 kotak
suara di bakar dan juga terjadi kerusakan akibat bentrokan antara
mahasiswa dan terdapat beberapa akativis yang ditangkap polisi (jika
tdak salah ada 7 orang). BEMAF-Tarbiyah mengkontruksi kembali komponen
dasar suatu roda kepemimpinan, dengan dilantiknya pejabat sementara
(sebelum Tsunami dan beberapa bulan setelah tsunami yang menjabat
sebagai gubernur adalah Tarmizi ninorse TBA 2001 , beliau sekarang
dosen dijurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah). Dalam pertarungan ini,
tentunya keberadaan Bemaf Tarbiyah tidak dipandang sebelah mata,
karena posisi BEMAF Tarbiyah memiliki basis masa yang menguasai 60 %
jumlah mahasiswa IAIN ar-raniry. Sehingga melalui berbagai upaya dalam
penyelesaian kepemimpinan di BEMA IAIN Ar-raniry BEMAF-Tarbiyah
(dibawah gubernur Tarmizi) turut andil dalam menyelesaikan beberapa
aktivis yang ditangkap melalui negosiasi pihak retktorat dan akhirnya
menfasililatasi zuanda untuk menjabat sebagai Presma yang terpilih,
sehingga akhirnya riak politik kampus meredam.
Setidaknya meredamnya riak politik dikampus, membuat aktivis BEMA IAIN
ar-raniry yang didominasi dari Fakultas Tarbiyah menfokuskan berbagai
progrom kerja yang sinergis, serta mengawal arus politik di Aceh pasca
penandatanganan MoU Helsinki. Baik itu isu Nasional dan juga isu
intenasional, seperti Palestina dan pelecahan terhadap umat Islam.
Diawal tahun 2006, Gubernur BEMAF-Tarbiyah (Tarmizi) menyelesaikan
studynya, dengan demikian posisi gubernur BEMAF-Tarbiyah kosong,
dengan berkonsultasi dengan PD III (waktu itu Drs. Ahmad Fauzi,M.A
beliau juga mantan ketua senat Tarbiyah, tahun 1989-1990, alumni
Program Doktor di Sudan) dimana waktu itu wakil gubernur secara
langsung mengisi Pjs. Guberur, yaitu Hidayat jurusan fisika 2002,
ditahun 2006 beliau sempat bekerja di BRR, dan sekarang bekerja di
UNFPA), dinamika kampus memanas, akibat dari periode kepemimpinan
BEMAF-tarbiyah yang mulai dianggap tidak berjalan, berhubung waktu itu
Hidayat sebagai gubernur sudah bekerja di BRR sehingga roda organisasi
BEMAF-tarbiyah terhambat, selama 2 bulan hidayat menjabat sebagai
gubernur, ia mengusulkan agar segera dilaksanakan pemira. Sementara
ketika itu MPMF masih bernama DPM (dewan Permusyawaratan Mahasiswa)
Tarbiyah. Sehingga muncul ide untuk sekaligus membentuk MPMF (Majelis
Perwakilan Mahasiswa Fakultas Tarbiyah) dan akhirnya Terpilih sebagai
ketuanya Muhammad Ihsan (jur: kimia 2003) sekarang beliau sebagai PNS
di SMA subulussalam. Dengan demikian, setelah terbentuk MPMF dengan
strukturisasinya, barulah dilaksanakan pemira di pertengan bulan Mei
2006.
Kondisi mahasiswa yang masih merasa trauma dengan tragedy pemira
ditingkat institute/Jami’ah (dimana sempat terjadi kerusuhan), dan
juga suasana politik di Aceh mulai panas setelah penandatangnan MoU
Helsinki, serta rancangan UUPA belum disahkan, kasus-kasus pelanggaran
Syari’at Islam, menjadi focus sebagian aktivis yang berbasis dari
kalangan mahasiswa Fakultas tarbiyah yang terlibat di BEMA IAIN
Ar-raniry. Aktifnya sebagian besar mahasiswa di tingkat institute ini
yang menjadi factor BEMAF tarbiyah dianggap tidak begitu memiliki
kapabelitas dalam mengontrol arah politik di Aceh, sehingga
BEMAF-tarbiyah sedikit dipandang sebelah mata oleh mereka yang ada di
Institute ketika itu. Sedikitnya peminat dalam pesta demokrasi di
Fakultas Tarbiyah, memberikan peluang besar ADK yang aktif dibeberapa
UKM dalam memenangkan kandidat gubernur, ketika itu yan menjadi
pesaing hanya 2 pasangan kandidat gubernur. Pada akhirnya terpilihlah
pasangan Hairul saputra (TBL02) dan Yusriansyah (TFS;03) sebagai
gubernur dan wakil gubernur BEMAF-Tarbiyah periode 2006-2007.
Ketika itu hairul juga menjabat sebagai ketua MPMI periode 2005-2006,
sehingga muncul aggapan dengan nada menyeleneh kalau hairul “mau”
turun pangkat/posisi karena factor politik tertentu di tingkat
institute yang memintanya untuk menjadi gubernur BEMAF-Tarbiyah
padahal ia merupakan “orang tua”, dengan tegas waktu ia
menyangakalnya, jika ia sudah selesai skripsi tinggal sidang
munaqasyah, dan ketika pada pelantikan gubernur ia memberikan
ketegasan sikap, dengan memberikan kejelasan bahwa ia hanya menjabat
gubernur sebelum selesai kuliah (selama masih berstatus mahasiswa).
melalui pernyatan di depan MPMF pada pelantikan itu BEMAF-tarbiyah
mulai diisi dari kalangan muda, yaitu let 2005 dan 2006.
Terbentuknya kembali strukturisasi kepemimpinan BEMAF-Tarbiyah secara
defenitif, menambah semangat beberapa mahasiswa baru yang mulai
mendaftar di IAIN Ar-raniry, yang sebagian besar mereka berminat masuk
di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-raniry. Hal lain yang memberi Bagening
bagi Mahasiswa tarbiyah adalah dengan profil gubernur yang akademisi
dengan nilai IPK 3,8 djiurusan Biologi, dengan beberapa pengalaman
ditingkat isntitut yang dimiliki oleh Hairul, menjadikan
BEMAF-Tarbiyah mewarnai dengan berbagai program kerja, melalui seminar
dan aktivitas yang menghidupkan organisasi kampus, serta juga berperan
aktif dalam berbagai diplomasi mengenai beberapa kebijakan dari
pimpinan kampus, misalnya opini beliau yang di muat Harian serambi
Indonesia untuk mengkritisi Dekan Fakultas Tarbiyah waktu itu Dr.
Farid Wajdi Ibrahim, MA, yang memutuskan adanya dana tambahan kepada
mahasiswa Fakultas Tarbiyah dengan alasan sebagai honorium pengelola
Lab, dosen dari Unsyiah dan kegiatan kemahasiswaan. Memasuki bulan
Agustus 2006, suasana sedikit panas, dimana hairul sudah menyelesaikan
studinya, padahal waktu itu baru saja dibuka open rekruitmen
kepengurusan yang baru, yang kebanyakan masuk dari angkatan 2006.
Sebagaimana apa yang disampaikan ketika pelantikannya, ia menepati
amanah orang tua untuk menyelesaikan studynya di jurusan biologi.
Dengan demikian posisi gubernur diisi oleh Yusriansyah,S.Pd.I melalui
sidang paripurna MPMF Tarbiyah, awal September 2006 dilaksanankanya
serah terima jabatan.
Periode kepemimpinan BEMAF-Tarbiyah dibawah Pjs. Gubernur Yusriansyah
(penulis sempat satu unit ketika beliau mengambil mata kuliah Fiqh
disemester II), meneruskan program kerja sampai pada akhir bulan mei
2007, riak politik kampus mulai memanas ketika itu, dimana muncul isu
dikalangan mahasiswa tingkat institute bahwa ada beberapa lembaga
kemahasiswaann di IAIN ar-raniry termasuk beberapa BEMAF
diselingkungan IAIN Ar-raniry, mendapat amprahan program kegiatan yang
didanai dari Satker BRR bidang pendidikan. Isu yang mencuat ketika itu
adalah adanya beberapa BEMAF yang membuat LPJ kegiatan yang tidak
sesuai dengan realisasi program di organisasi kemahasiswaan, dimana
dicurigai beberapa aktivis yang mencoba menggelapkan dana dari lembaga
tersebut. Disamping itu November 2006 BEMA IAIN ar-raniry baru saja
selesai diLPJ dibawah kepemimpinan zuanda, sehingga kembali digelar
pesta Demokrasi kampus. Beberapa aktivis ketika itu yang aktif
diberbagai lembaga, termasuk mahasiswa fakultas tarbiyah turut andil
dalam pesta demokrasi ini. Dengan beberapa proses yang berlangsung ya
walaupun tidak sepanas ketika pemira sebelumnya, namun banyak sekali
riak politik yang panas saling tuduh dan saling fitnah antar beberapa
elemen mahasiswa. diawal desember 2006 pemira intitut digelar dan
terpilihlah Ansharullah (TMA03) sebagai presiden defenitif.
Anshurullah ketika itu juga berafeliasi dengan kalangan ADK yang aktif
di BEMAF Tarbiyah sehingga Sinergisasi kelembagaan mahasiswa berjalan
normal sampai, akhir bulan april 2007.
Memasuki periode waktu ini, kondisi BEMAF Tarbiyah beralih kebeberapa
aktivis yang berbeda pandangan dalam menyikapi kebijakan kampus ketika
itu. Dimana ketua MMPF ketika beralih kepada suadara Muhammad Fadhil,
TMA06 (beliau pindahan dan Fakultas syari’ah angkatan 2005m basis
HMI). Pelaksanaan pemira dibawah MPMF baru berjalan sangat dinamis,
dengan berbagai argument dan kekuatan basis masa masing-masing
kandidat ketika menilai bahwa kebijakan dan Tambahan bagi mahasiswa
tidak tepat diFakultas tarbiyah karena tidak adanya transparansi.
Terdapat dua Kandidat yang bersaing ketat ketika itu; yaitu Safriyandi
TBA04 dan IsariyadiTFS03 (kandidat dari alumni BEMAF-Tarbiyah periode
Hairul Saputra dan Yusriansyah) dengan Khairul Halim TPA05 (pindahan
dari fakultas syariah letting 04) dan munawir TKM 04. Proses
penyelenggaraan demokrasi ketika ini isu sentral yang sacral diangkat
adalah mengenai dana tambahan dengan Pembangunan fisik kampus IAIN
ar-raniry yang tidak jelas. Namun pada akhirnya yang mungkin dari satu
sisi sangat menyakitkan adalah ketika kandidat Safriyandi dan Isaryadi
kalah tipis hanya satu suara dengan kandidat Khairul Halim dan
munawir. Sehingga pupus regenerasi dari kalangan aktivis yang
mencicipi BEMAF-Tarbiyah sebelumnya, dimana diketahui ketika itu bahwa
kandidat yang terpilih ini banyak melakukan Blakc Campaign, dan
kecurangan serta didukung dari kalangan yang tidak sependapat dengan
BEMAF-Tarbiyah. Sehingga secara otamatis “pengurus” muda yang pernah
diBEMAF-tarbiyah sebelumnya enggan untuk begabung aktif pada masa
periode 2007-2008.
Dinamika politik kampus mulai memanas dengan sebagian aktivis
mahasiswa yang berhaluan keras memenangi pemira ditarbiyah, sehingga
BEMA IAIN Ar-raniry sedikit tergoyang eksitensinya. Jelas dimana
ketika itu mulai dibangun oposisi arus bawah denan membentuk FORBEMAF
sebagai Badan Tandingan BEMA IAIN Ar-raniry, yang diketuai oleh Dedi
Saputra (Gub. BEMAF Dakwah). Awal juli 2007 kampus IAIN Ar-raniry
mulai memprihatinkan dengan kondisi bangunan yang tidak menentu.
Padahal semua orang tahu bahwa kampus IAIN ar-raniry merupakan kawasan
terparah dan merusak banyak bangunan ketika musibah tsunami. Namun
kampus Unsyiah yang mendapat bantuan bangunan fisik dari BRR NAD-NIAS.
Hal inilah factor banyak mahasiswa yang geram dan panas, akibat
kecemburuan dari ketidakseriusan Rektor IAIN ar-raniry dalam melobi
pihak BRR untuk pembangunan fisik IAIN Ar-raniry. FORBEMAF
(BEMAF-Tarbiyah juga terlibat) mengambil peran sebagai pahlawan
mahasiswa untuk memperjuankan aspirasi arus bawah dari mahasiswa
melalui aksi demonstrasi yang dibangun dengan isu yang tidak
menyehatkan. Menuduh Rektor dengan nada-nada yang tidak mencerminkan
komunitas orang berilmu. Menuliskan kata-kata kotor dinding pagar
kampus.
Puncak Demosntrasi besar-besaran terjadi pada saat Wisuda sarjana
Februari 2008, dimana masyarakat aceh sangat kecewa menyaksikan
peristiwa itu. Rektor dilempari dengan aqua gelas dan dicerca dengan
kata-kata kotor didepan orang tua mahasiswa yang sedang diwisuda
ketika itu. Aksi ini diliput media nasional dan local, sehingga wajah
IAIN Ar-raniry sedikit tercoreng dimata public. Pergerakan FORBEMAF
yang di motori oleh aktivis yang tergabung dari empat BEMAF (Adab,
Dakwah, Tarbiyah dan syari’ah), menarik perhatian masyarakat luas
sehingga datang opini-opini yang bernada protes, nasehat dan
kesetujuan atas aksi yang dilaksanakan itu. Tuntutan sebagian
mahasisaw itu yang sebagai sasarannya adalah menuntut Rektor IAIN
Ar-raniry turun dari Jabatannya jika tidak ada kejelasan pembangunan
kampus IAIN Ar-raniry yang katanya didanai oleh IDB, namun hingga
akhir periode kepemimpinan Prof. Drs. H. yusni saby, Ph.D. kampus IAIN
ar-raniry juga tak kunjung dibangun.
Gelombang protes tersebut kian surut dimakan waktu dengan berakhirnya
beberapa aktivis yang menyelesaikan studinya. Saya melihat ada
beberapa solusi “cerdas” yang ditawarkan oleh pimpinan waktu itu.
Untuk menghentikan gerakan-gerakan yang bisa digolongkan “pengacau”
kebijaka kampus, pimpinan menawarkan beberapa opsi secara individu
kepada tokoh yang memotori aksi tersebut. Misalnya kepada Dedi saputra
yang waktu itu sebagai pimpinan aksi turut “mendampingi” Yusni saby
dalan perhalatan seni Aceh di Hawaii akhir tahun 2008, belum lagi
terakhirnya diketahui beberapa aktivis mendapat rekomendasi dari
Rektor IAIN untuk dapat melanjutkan S2 di Malaysia. Saya mengira hal
ini, sebagai salah satu “upaya” pengakalan kebeberapa actor dibalik
aksi itu dalam meraih beberapa kepentingan antar elite yang ada di
IAIN Ar-raniry. Serta ada beberapa actor lain yang diketahui akhirnya
direkomendasi untuk melanjutkan study UGM, dan beberapa universitas
diluar Aceh. Termasuk ada satu tokoh mahasiswa Tarbiyah yang ketika
itu setelah selesai kuliah untuk dtempat sebagai staff di salah satu
jurusan di Fakultas Tarbiyah. Sehingga munculah beberapa anggapan
diantara mahasiswa lain bahwa hal itu sebagai bentuk Nepotisme
pimpinan kampus dalam bersaing dalam putaran pemilihan rektor pada
awal ulan Mei 2009.
Saya dengan beberapa teman aktivis komisariat Fakultas Tarbiyah
mendatangi pak Yusni, dimana beliau juga merupakan alumni HMI. Ketika
kami bersilaturahmi kerumah beliau ketika itu, banyak hal menjadi
titik terang dimana letak permasalahan ketidakpahaman pimpinan kampus
dan mahasiswa dalam penentuan kebijakan pimpinan IAIN Ar-raniry.
Beliau menjelaskan salah satu faktornya adalah tidak terbangunnya
komunikasi yang baik antar kalangan yang ada di IAIN, baik dipimpinan
kampus IAIN Ar-raniry maupun kalangan pimpinan mahasiswa. sehingga
berbagai bentuk aktivitas yang terjadi berhaluan dengan nada kasar dan
protes. Beliau menjelaskan beberapa factor kenapa kampus IAIN
Ar-raniry tidak mendapat jatah dari BRR untuk rekonstruksi kampus,
dengan alasan bahwa IAIN Ar-raniry telah mengikat kontrak dengan pihak
IDB sebagai donator tunggal untuk pembagunan fisik IAIN Ar-raniry.
Selain itu IDB juga memiliki karakter yang berbeda dari donatur yang
ada, karena harus melalui proses yang sangat lama. Setelah itu kami
tidak membahas lagi kondisi kampus dan kami lanjutkan mengenai
pengkaderan HMI, berhubung waktu saya sebagai sekretaris panitia dalam
salah satu kegiatan HMI Komisariat Fakultas Tarbiyah.
BEMAF-Tarbiyah periode 2007-2008, ketika itu mengisakan berbagai
persoalan, baik persoalan administrasi, inventaris dan bahkan persoaln
LPJ yang tidak pernah dilaksanakan hingga akhir kepemimpinan
Khairul-Munawir. Pernah sekali pernah dibuat suatu pertemuan yang
difasilitasi oleh Muhammad Fadhil selaku ketua MPMF, dimana ketika itu
khairul-Munawir menjadi sasaran serang dari kalangan HMJ, dalam
menjalankan roda kepemimpinan. Waktu itu hadir Drs, Razali M, Thayeb,
M.Ag, selaku PD III fakultas Tarbiyah untuk mengengahi duduk
persoalan, sehingga diambil kesimpulan dengan sebuah nasehat bahwa
kita semua disini sedang belajar. Setala itu tidak ada lagi aktivitas
di BEMAF-Tarbiyah, pendafataran Mahasiswa baru mulai ramai. Pimpinan
kampus terjadi resulfle, termasuk PD III tarbiyah digantikan oleh Drs.
Ismail Anshary, MA. 2 minggu menjelang ospek, PD III Fakultas Tarbiyah
memanggil perawakilan mahasiswa dari HMJ untuk membentuk panitia
bersama penyambutan ospek. Dimana ketika itu Ilhamullah putra (TKI04,
mantan ketua HMJ TKI) sebagai Gubernur mahasiswa langsung beliau
tunjuk sebagai Pjs. Penunjukan ini yang akhirnya memicu, anggapan
terhadap kebijakan ini, bahwa PD III telah mengintervensi kedaulatan
Mahasiswa. padahal ketika itu ada beberapa aktivis lainnya yang sudah
mempersiapkan pelaksanaan pemira. Dibalik itu kondisi BEMAF Tarbiyah,
amburadur strukturisasinya, skret dirusak, inventaris kantor tidak
jelas, meyisakan hutang di Biro Keuangan IAIN Ar-raniry 5 juta rupiah,
sehingga Ilhamullah putra ketika menjaabat sebagai Pjs. Kewalahan
sendirinya (sekarang beliau sudah menikah dan bertugas sebagai satpam
di Pasca Sarjana IAIN Ar-raniry).
Walaupun kepemimpinan di BEMAF-Tarbiyah sempat terjadi kemandekan,
masih ada aktivis yang konsen memprotes kebijakan pembangunan IAIN
melalui beberapa aksi dan disikusi untuk mengawal kejelasan
pembangunan fisik IAIN Ar-Raniry, yaitu dari beberapa Mahasiswa
tarbiyah yang aktif di BEMA IAIN Ar-raniry, pada waktu itu safriyandi
sebagai Presma IAIN Ar-raniry. Safriyandi merupaka salah satu alumni
dari BEMAF-Tarbiyah pada masa kepemimpinan Hairul saputra dan
Yusriansyah, selain itu beliau juga aktivis HMI Komisariat Tarbiyah,
yang ketika itu ketika ospek beliau sempat menjadi kakak asuh saya.
Pada saat pemira dalam pencalonannya sebagai Presma, hiruk-pikuk
politik kampus sangat panas dengan menghubungkan dengan dinamika
politik yang menyingkut lawan, dan meberika opini yang tidak bagus.
Ketika itu secar pribadi, memiliki tugas sebagai informan untuk
mengawasi pergerakan kawan-kawan yang dekat dengan Forbemaf untuk
mengetahui informasi kandidat yang bersaing dalam pemira tingkat
institute. Pengalaman sebagai informan inilah saya mendapatkan
data-data yang mengecewakan terhadap beberapa kawan-kawan aktivis
BEMAF-Tarbiyah. Satu hal sangat membuat saya tercengan dan kaget
sebagai mahasiswa IAIN Ar-raniy yang tentu telah dibekali dengan
nilai-nilai islam dan norma-norma lainnya. adalah ketika mereka tidak
menjaga waktu-waktu shalat, tutur bahasa yang tidak sopan dan
penggunaan anggaran yang tidak professional, membentak satu sama lain
dalam bekerja. Hal inilah yang membuat saya merasa punya beban moral
untuk memperbaiki BEMAF-Tarbiyah ketika itu, bersama teman-teman yang,
karena bukan saya saja yang mempunyai keprihatinan tersebut, semua
mahasiswa mampu menilai secara objektif.
Pada akhir Oktober 2008, PD III Fakultas Tarbiyah mengintruksikan
untuk membentuk kepengurusan baru MPMF Tarbiyah melalui perwakilan
masing-masing HMJ, sehingga terpilihlah saudara Munzani (TKI07,
lanjutan DII PGMI) untuk menggantikan Muhammad Fadhil. Berselang 2
minggu kemudian kembali dibentuk Komisi Pemilihan Raya fakultas
Tarbiyah, untuk menfasilitasi panitia pelaksana pemira, dimana ketika
itu diketuai oleh Rusda Mulyani (TFS06).
READ MORE,,,
PART II
LALU APA KABAR KAMPUS IAIN AR_RANIRY HARI INI??
Mahasiswa IAIN ar-raniry (periode 2005-2010)
Oleh: Burhanuddin Al-Khairy (Gubernur BEMAF-Tarbiyah 2010)
Pergerakan mahasiswa merupakan sebuah keniscayaan dalam pertarungan
kekuatan intelektual dalam pengaplikasian konsep tridarma perguruan
tinggi yang kemudian dapat diartiakan sebagai pembelajaran politik
bagi mahasiswa. Aktivitas kemahasiswaan mencakup keseluruhan tatanan
nilai yang berhaluan dari pemahaman ilmu yang dimiliki, bergumul
menjadi sebuah arus perubahan dalam sebuah komunitas. Komunitas kampus
sebagai salah satu basis pergerakan mahasiswa menggambarkan
kepribadian dari produk intelektualitas perguruan tinggi, baik itu
disaat sedang berproses maupun ketika telah menjadi hasil sebagai
alumni. BEMAF-Tarbiyah merupakan pencitraan sebagai data auntentik
untuk mengetahui arus yang me-riak-an pergulatan mahasiswa dalam
menjadi control social melalui lebel aktivis atau dengan bahasa lain
sebagi Agent of change. Strukturisasi sebagai komponen penyusun
BEMAF-Tarbiyah terdiri dari berbagai mahasiswa yang berpengetahuan
mendalam dan berlatar belakang yang tidak sama, sehingga dinamika
pergerakan kampus seiring dengan kepaduan individualitas yang berjiwa
aktivis, sayap kiri atau kanan. Dengan demikian wajah kampus berwarna
dari bentuk corak idealitas mahasiswa yang bertarung melalui sarana
yang disebut demokrasi.
Di penghujung tahun 2005, setelah setahun musibah bencana Tsunami
melanda negeri ini, organisasi kampus sedikit mulai mapan untuk
berbenah diri kembali yaitu BEMA IAIN Ar-Raniry, UKM, dan juga tidak
terlepas BEMAF-Tarbiyah. Pergulatan mahasiswa Tarbiyah dalam
pertarungan pencalonan Presma IAIN Ar-Raniry kembali mewarnai sejarah
kelam pergerakan internal Mahasiswa di IAIN Ar-Raniry, dimana pada
waktu itu ketika salah satu kandidat Presma (Zuanda, TEN 2002 yang
berbasis ADK) yang berasal dari Fakultas Tarbiyah, menjadi kandidat
presma yang di unggulkan Mahasiswa. Ketidakterimaan beberapa aktivis
Fakultas Dakwah, Adab dan Syari’ah dengan hasil menang telak di TPS
Tarbiyah yang didominasi kader Dakwah Kampus, mengakibatkan 2 kotak
suara di bakar dan juga terjadi kerusakan akibat bentrokan antara
mahasiswa dan terdapat beberapa akativis yang ditangkap polisi (jika
tdak salah ada 7 orang). BEMAF-Tarbiyah mengkontruksi kembali komponen
dasar suatu roda kepemimpinan, dengan dilantiknya pejabat sementara
(sebelum Tsunami dan beberapa bulan setelah tsunami yang menjabat
sebagai gubernur adalah Tarmizi ninorse TBA 2001 , beliau sekarang
dosen dijurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah). Dalam pertarungan ini,
tentunya keberadaan Bemaf Tarbiyah tidak dipandang sebelah mata,
karena posisi BEMAF Tarbiyah memiliki basis masa yang menguasai 60 %
jumlah mahasiswa IAIN ar-raniry. Sehingga melalui berbagai upaya dalam
penyelesaian kepemimpinan di BEMA IAIN Ar-raniry BEMAF-Tarbiyah
(dibawah gubernur Tarmizi) turut andil dalam menyelesaikan beberapa
aktivis yang ditangkap melalui negosiasi pihak retktorat dan akhirnya
menfasililatasi zuanda untuk menjabat sebagai Presma yang terpilih,
sehingga akhirnya riak politik kampus meredam.
Setidaknya meredamnya riak politik dikampus, membuat aktivis BEMA IAIN
ar-raniry yang didominasi dari Fakultas Tarbiyah menfokuskan berbagai
progrom kerja yang sinergis, serta mengawal arus politik di Aceh pasca
penandatanganan MoU Helsinki. Baik itu isu Nasional dan juga isu
intenasional, seperti Palestina dan pelecahan terhadap umat Islam.
Diawal tahun 2006, Gubernur BEMAF-Tarbiyah (Tarmizi) menyelesaikan
studynya, dengan demikian posisi gubernur BEMAF-Tarbiyah kosong,
dengan berkonsultasi dengan PD III (waktu itu Drs. Ahmad Fauzi,M.A
beliau juga mantan ketua senat Tarbiyah, tahun 1989-1990, alumni
Program Doktor di Sudan) dimana waktu itu wakil gubernur secara
langsung mengisi Pjs. Guberur, yaitu Hidayat jurusan fisika 2002,
ditahun 2006 beliau sempat bekerja di BRR, dan sekarang bekerja di
UNFPA), dinamika kampus memanas, akibat dari periode kepemimpinan
BEMAF-tarbiyah yang mulai dianggap tidak berjalan, berhubung waktu itu
Hidayat sebagai gubernur sudah bekerja di BRR sehingga roda organisasi
BEMAF-tarbiyah terhambat, selama 2 bulan hidayat menjabat sebagai
gubernur, ia mengusulkan agar segera dilaksanakan pemira. Sementara
ketika itu MPMF masih bernama DPM (dewan Permusyawaratan Mahasiswa)
Tarbiyah. Sehingga muncul ide untuk sekaligus membentuk MPMF (Majelis
Perwakilan Mahasiswa Fakultas Tarbiyah) dan akhirnya Terpilih sebagai
ketuanya Muhammad Ihsan (jur: kimia 2003) sekarang beliau sebagai PNS
di SMA subulussalam. Dengan demikian, setelah terbentuk MPMF dengan
strukturisasinya, barulah dilaksanakan pemira di pertengan bulan Mei
2006.
Kondisi mahasiswa yang masih merasa trauma dengan tragedy pemira
ditingkat institute/Jami’ah (dimana sempat terjadi kerusuhan), dan
juga suasana politik di Aceh mulai panas setelah penandatangnan MoU
Helsinki, serta rancangan UUPA belum disahkan, kasus-kasus pelanggaran
Syari’at Islam, menjadi focus sebagian aktivis yang berbasis dari
kalangan mahasiswa Fakultas tarbiyah yang terlibat di BEMA IAIN
Ar-raniry. Aktifnya sebagian besar mahasiswa di tingkat institute ini
yang menjadi factor BEMAF tarbiyah dianggap tidak begitu memiliki
kapabelitas dalam mengontrol arah politik di Aceh, sehingga
BEMAF-tarbiyah sedikit dipandang sebelah mata oleh mereka yang ada di
Institute ketika itu. Sedikitnya peminat dalam pesta demokrasi di
Fakultas Tarbiyah, memberikan peluang besar ADK yang aktif dibeberapa
UKM dalam memenangkan kandidat gubernur, ketika itu yan menjadi
pesaing hanya 2 pasangan kandidat gubernur. Pada akhirnya terpilihlah
pasangan Hairul saputra (TBL02) dan Yusriansyah (TFS;03) sebagai
gubernur dan wakil gubernur BEMAF-Tarbiyah periode 2006-2007.
Ketika itu hairul juga menjabat sebagai ketua MPMI periode 2005-2006,
sehingga muncul aggapan dengan nada menyeleneh kalau hairul “mau”
turun pangkat/posisi karena factor politik tertentu di tingkat
institute yang memintanya untuk menjadi gubernur BEMAF-Tarbiyah
padahal ia merupakan “orang tua”, dengan tegas waktu ia
menyangakalnya, jika ia sudah selesai skripsi tinggal sidang
munaqasyah, dan ketika pada pelantikan gubernur ia memberikan
ketegasan sikap, dengan memberikan kejelasan bahwa ia hanya menjabat
gubernur sebelum selesai kuliah (selama masih berstatus mahasiswa).
melalui pernyatan di depan MPMF pada pelantikan itu BEMAF-tarbiyah
mulai diisi dari kalangan muda, yaitu let 2005 dan 2006.
Terbentuknya kembali strukturisasi kepemimpinan BEMAF-Tarbiyah secara
defenitif, menambah semangat beberapa mahasiswa baru yang mulai
mendaftar di IAIN Ar-raniry, yang sebagian besar mereka berminat masuk
di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-raniry. Hal lain yang memberi Bagening
bagi Mahasiswa tarbiyah adalah dengan profil gubernur yang akademisi
dengan nilai IPK 3,8 djiurusan Biologi, dengan beberapa pengalaman
ditingkat isntitut yang dimiliki oleh Hairul, menjadikan
BEMAF-Tarbiyah mewarnai dengan berbagai program kerja, melalui seminar
dan aktivitas yang menghidupkan organisasi kampus, serta juga berperan
aktif dalam berbagai diplomasi mengenai beberapa kebijakan dari
pimpinan kampus, misalnya opini beliau yang di muat Harian serambi
Indonesia untuk mengkritisi Dekan Fakultas Tarbiyah waktu itu Dr.
Farid Wajdi Ibrahim, MA, yang memutuskan adanya dana tambahan kepada
mahasiswa Fakultas Tarbiyah dengan alasan sebagai honorium pengelola
Lab, dosen dari Unsyiah dan kegiatan kemahasiswaan. Memasuki bulan
Agustus 2006, suasana sedikit panas, dimana hairul sudah menyelesaikan
studinya, padahal waktu itu baru saja dibuka open rekruitmen
kepengurusan yang baru, yang kebanyakan masuk dari angkatan 2006.
Sebagaimana apa yang disampaikan ketika pelantikannya, ia menepati
amanah orang tua untuk menyelesaikan studynya di jurusan biologi.
Dengan demikian posisi gubernur diisi oleh Yusriansyah,S.Pd.I melalui
sidang paripurna MPMF Tarbiyah, awal September 2006 dilaksanankanya
serah terima jabatan.
Periode kepemimpinan BEMAF-Tarbiyah dibawah Pjs. Gubernur Yusriansyah
(penulis sempat satu unit ketika beliau mengambil mata kuliah Fiqh
disemester II), meneruskan program kerja sampai pada akhir bulan mei
2007, riak politik kampus mulai memanas ketika itu, dimana muncul isu
dikalangan mahasiswa tingkat institute bahwa ada beberapa lembaga
kemahasiswaann di IAIN ar-raniry termasuk beberapa BEMAF
diselingkungan IAIN Ar-raniry, mendapat amprahan program kegiatan yang
didanai dari Satker BRR bidang pendidikan. Isu yang mencuat ketika itu
adalah adanya beberapa BEMAF yang membuat LPJ kegiatan yang tidak
sesuai dengan realisasi program di organisasi kemahasiswaan, dimana
dicurigai beberapa aktivis yang mencoba menggelapkan dana dari lembaga
tersebut. Disamping itu November 2006 BEMA IAIN ar-raniry baru saja
selesai diLPJ dibawah kepemimpinan zuanda, sehingga kembali digelar
pesta Demokrasi kampus. Beberapa aktivis ketika itu yang aktif
diberbagai lembaga, termasuk mahasiswa fakultas tarbiyah turut andil
dalam pesta demokrasi ini. Dengan beberapa proses yang berlangsung ya
walaupun tidak sepanas ketika pemira sebelumnya, namun banyak sekali
riak politik yang panas saling tuduh dan saling fitnah antar beberapa
elemen mahasiswa. diawal desember 2006 pemira intitut digelar dan
terpilihlah Ansharullah (TMA03) sebagai presiden defenitif.
Anshurullah ketika itu juga berafeliasi dengan kalangan ADK yang aktif
di BEMAF Tarbiyah sehingga Sinergisasi kelembagaan mahasiswa berjalan
normal sampai, akhir bulan april 2007.
Memasuki periode waktu ini, kondisi BEMAF Tarbiyah beralih kebeberapa
aktivis yang berbeda pandangan dalam menyikapi kebijakan kampus ketika
itu. Dimana ketua MMPF ketika beralih kepada suadara Muhammad Fadhil,
TMA06 (beliau pindahan dan Fakultas syari’ah angkatan 2005m basis
HMI). Pelaksanaan pemira dibawah MPMF baru berjalan sangat dinamis,
dengan berbagai argument dan kekuatan basis masa masing-masing
kandidat ketika menilai bahwa kebijakan dan Tambahan bagi mahasiswa
tidak tepat diFakultas tarbiyah karena tidak adanya transparansi.
Terdapat dua Kandidat yang bersaing ketat ketika itu; yaitu Safriyandi
TBA04 dan IsariyadiTFS03 (kandidat dari alumni BEMAF-Tarbiyah periode
Hairul Saputra dan Yusriansyah) dengan Khairul Halim TPA05 (pindahan
dari fakultas syariah letting 04) dan munawir TKM 04. Proses
penyelenggaraan demokrasi ketika ini isu sentral yang sacral diangkat
adalah mengenai dana tambahan dengan Pembangunan fisik kampus IAIN
ar-raniry yang tidak jelas. Namun pada akhirnya yang mungkin dari satu
sisi sangat menyakitkan adalah ketika kandidat Safriyandi dan Isaryadi
kalah tipis hanya satu suara dengan kandidat Khairul Halim dan
munawir. Sehingga pupus regenerasi dari kalangan aktivis yang
mencicipi BEMAF-Tarbiyah sebelumnya, dimana diketahui ketika itu bahwa
kandidat yang terpilih ini banyak melakukan Blakc Campaign, dan
kecurangan serta didukung dari kalangan yang tidak sependapat dengan
BEMAF-Tarbiyah. Sehingga secara otamatis “pengurus” muda yang pernah
diBEMAF-tarbiyah sebelumnya enggan untuk begabung aktif pada masa
periode 2007-2008.
Dinamika politik kampus mulai memanas dengan sebagian aktivis
mahasiswa yang berhaluan keras memenangi pemira ditarbiyah, sehingga
BEMA IAIN Ar-raniry sedikit tergoyang eksitensinya. Jelas dimana
ketika itu mulai dibangun oposisi arus bawah denan membentuk FORBEMAF
sebagai Badan Tandingan BEMA IAIN Ar-raniry, yang diketuai oleh Dedi
Saputra (Gub. BEMAF Dakwah). Awal juli 2007 kampus IAIN Ar-raniry
mulai memprihatinkan dengan kondisi bangunan yang tidak menentu.
Padahal semua orang tahu bahwa kampus IAIN ar-raniry merupakan kawasan
terparah dan merusak banyak bangunan ketika musibah tsunami. Namun
kampus Unsyiah yang mendapat bantuan bangunan fisik dari BRR NAD-NIAS.
Hal inilah factor banyak mahasiswa yang geram dan panas, akibat
kecemburuan dari ketidakseriusan Rektor IAIN ar-raniry dalam melobi
pihak BRR untuk pembangunan fisik IAIN Ar-raniry. FORBEMAF
(BEMAF-Tarbiyah juga terlibat) mengambil peran sebagai pahlawan
mahasiswa untuk memperjuankan aspirasi arus bawah dari mahasiswa
melalui aksi demonstrasi yang dibangun dengan isu yang tidak
menyehatkan. Menuduh Rektor dengan nada-nada yang tidak mencerminkan
komunitas orang berilmu. Menuliskan kata-kata kotor dinding pagar
kampus.
Puncak Demosntrasi besar-besaran terjadi pada saat Wisuda sarjana
Februari 2008, dimana masyarakat aceh sangat kecewa menyaksikan
peristiwa itu. Rektor dilempari dengan aqua gelas dan dicerca dengan
kata-kata kotor didepan orang tua mahasiswa yang sedang diwisuda
ketika itu. Aksi ini diliput media nasional dan local, sehingga wajah
IAIN Ar-raniry sedikit tercoreng dimata public. Pergerakan FORBEMAF
yang di motori oleh aktivis yang tergabung dari empat BEMAF (Adab,
Dakwah, Tarbiyah dan syari’ah), menarik perhatian masyarakat luas
sehingga datang opini-opini yang bernada protes, nasehat dan
kesetujuan atas aksi yang dilaksanakan itu. Tuntutan sebagian
mahasisaw itu yang sebagai sasarannya adalah menuntut Rektor IAIN
Ar-raniry turun dari Jabatannya jika tidak ada kejelasan pembangunan
kampus IAIN Ar-raniry yang katanya didanai oleh IDB, namun hingga
akhir periode kepemimpinan Prof. Drs. H. yusni saby, Ph.D. kampus IAIN
ar-raniry juga tak kunjung dibangun.
Gelombang protes tersebut kian surut dimakan waktu dengan berakhirnya
beberapa aktivis yang menyelesaikan studinya. Saya melihat ada
beberapa solusi “cerdas” yang ditawarkan oleh pimpinan waktu itu.
Untuk menghentikan gerakan-gerakan yang bisa digolongkan “pengacau”
kebijaka kampus, pimpinan menawarkan beberapa opsi secara individu
kepada tokoh yang memotori aksi tersebut. Misalnya kepada Dedi saputra
yang waktu itu sebagai pimpinan aksi turut “mendampingi” Yusni saby
dalan perhalatan seni Aceh di Hawaii akhir tahun 2008, belum lagi
terakhirnya diketahui beberapa aktivis mendapat rekomendasi dari
Rektor IAIN untuk dapat melanjutkan S2 di Malaysia. Saya mengira hal
ini, sebagai salah satu “upaya” pengakalan kebeberapa actor dibalik
aksi itu dalam meraih beberapa kepentingan antar elite yang ada di
IAIN Ar-raniry. Serta ada beberapa actor lain yang diketahui akhirnya
direkomendasi untuk melanjutkan study UGM, dan beberapa universitas
diluar Aceh. Termasuk ada satu tokoh mahasiswa Tarbiyah yang ketika
itu setelah selesai kuliah untuk dtempat sebagai staff di salah satu
jurusan di Fakultas Tarbiyah. Sehingga munculah beberapa anggapan
diantara mahasiswa lain bahwa hal itu sebagai bentuk Nepotisme
pimpinan kampus dalam bersaing dalam putaran pemilihan rektor pada
awal ulan Mei 2009.
Saya dengan beberapa teman aktivis komisariat Fakultas Tarbiyah
mendatangi pak Yusni, dimana beliau juga merupakan alumni HMI. Ketika
kami bersilaturahmi kerumah beliau ketika itu, banyak hal menjadi
titik terang dimana letak permasalahan ketidakpahaman pimpinan kampus
dan mahasiswa dalam penentuan kebijakan pimpinan IAIN Ar-raniry.
Beliau menjelaskan salah satu faktornya adalah tidak terbangunnya
komunikasi yang baik antar kalangan yang ada di IAIN, baik dipimpinan
kampus IAIN Ar-raniry maupun kalangan pimpinan mahasiswa. sehingga
berbagai bentuk aktivitas yang terjadi berhaluan dengan nada kasar dan
protes. Beliau menjelaskan beberapa factor kenapa kampus IAIN
Ar-raniry tidak mendapat jatah dari BRR untuk rekonstruksi kampus,
dengan alasan bahwa IAIN Ar-raniry telah mengikat kontrak dengan pihak
IDB sebagai donator tunggal untuk pembagunan fisik IAIN Ar-raniry.
Selain itu IDB juga memiliki karakter yang berbeda dari donatur yang
ada, karena harus melalui proses yang sangat lama. Setelah itu kami
tidak membahas lagi kondisi kampus dan kami lanjutkan mengenai
pengkaderan HMI, berhubung waktu saya sebagai sekretaris panitia dalam
salah satu kegiatan HMI Komisariat Fakultas Tarbiyah.
BEMAF-Tarbiyah periode 2007-2008, ketika itu mengisakan berbagai
persoalan, baik persoalan administrasi, inventaris dan bahkan persoaln
LPJ yang tidak pernah dilaksanakan hingga akhir kepemimpinan
Khairul-Munawir. Pernah sekali pernah dibuat suatu pertemuan yang
difasilitasi oleh Muhammad Fadhil selaku ketua MPMF, dimana ketika itu
khairul-Munawir menjadi sasaran serang dari kalangan HMJ, dalam
menjalankan roda kepemimpinan. Waktu itu hadir Drs, Razali M, Thayeb,
M.Ag, selaku PD III fakultas Tarbiyah untuk mengengahi duduk
persoalan, sehingga diambil kesimpulan dengan sebuah nasehat bahwa
kita semua disini sedang belajar. Setala itu tidak ada lagi aktivitas
di BEMAF-Tarbiyah, pendafataran Mahasiswa baru mulai ramai. Pimpinan
kampus terjadi resulfle, termasuk PD III tarbiyah digantikan oleh Drs.
Ismail Anshary, MA. 2 minggu menjelang ospek, PD III Fakultas Tarbiyah
memanggil perawakilan mahasiswa dari HMJ untuk membentuk panitia
bersama penyambutan ospek. Dimana ketika itu Ilhamullah putra (TKI04,
mantan ketua HMJ TKI) sebagai Gubernur mahasiswa langsung beliau
tunjuk sebagai Pjs. Penunjukan ini yang akhirnya memicu, anggapan
terhadap kebijakan ini, bahwa PD III telah mengintervensi kedaulatan
Mahasiswa. padahal ketika itu ada beberapa aktivis lainnya yang sudah
mempersiapkan pelaksanaan pemira. Dibalik itu kondisi BEMAF Tarbiyah,
amburadur strukturisasinya, skret dirusak, inventaris kantor tidak
jelas, meyisakan hutang di Biro Keuangan IAIN Ar-raniry 5 juta rupiah,
sehingga Ilhamullah putra ketika menjaabat sebagai Pjs. Kewalahan
sendirinya (sekarang beliau sudah menikah dan bertugas sebagai satpam
di Pasca Sarjana IAIN Ar-raniry).
Walaupun kepemimpinan di BEMAF-Tarbiyah sempat terjadi kemandekan,
masih ada aktivis yang konsen memprotes kebijakan pembangunan IAIN
melalui beberapa aksi dan disikusi untuk mengawal kejelasan
pembangunan fisik IAIN Ar-Raniry, yaitu dari beberapa Mahasiswa
tarbiyah yang aktif di BEMA IAIN Ar-raniry, pada waktu itu safriyandi
sebagai Presma IAIN Ar-raniry. Safriyandi merupaka salah satu alumni
dari BEMAF-Tarbiyah pada masa kepemimpinan Hairul saputra dan
Yusriansyah, selain itu beliau juga aktivis HMI Komisariat Tarbiyah,
yang ketika itu ketika ospek beliau sempat menjadi kakak asuh saya.
Pada saat pemira dalam pencalonannya sebagai Presma, hiruk-pikuk
politik kampus sangat panas dengan menghubungkan dengan dinamika
politik yang menyingkut lawan, dan meberika opini yang tidak bagus.
Ketika itu secar pribadi, memiliki tugas sebagai informan untuk
mengawasi pergerakan kawan-kawan yang dekat dengan Forbemaf untuk
mengetahui informasi kandidat yang bersaing dalam pemira tingkat
institute. Pengalaman sebagai informan inilah saya mendapatkan
data-data yang mengecewakan terhadap beberapa kawan-kawan aktivis
BEMAF-Tarbiyah. Satu hal sangat membuat saya tercengan dan kaget
sebagai mahasiswa IAIN Ar-raniy yang tentu telah dibekali dengan
nilai-nilai islam dan norma-norma lainnya. adalah ketika mereka tidak
menjaga waktu-waktu shalat, tutur bahasa yang tidak sopan dan
penggunaan anggaran yang tidak professional, membentak satu sama lain
dalam bekerja. Hal inilah yang membuat saya merasa punya beban moral
untuk memperbaiki BEMAF-Tarbiyah ketika itu, bersama teman-teman yang,
karena bukan saya saja yang mempunyai keprihatinan tersebut, semua
mahasiswa mampu menilai secara objektif.
Pada akhir Oktober 2008, PD III Fakultas Tarbiyah mengintruksikan
untuk membentuk kepengurusan baru MPMF Tarbiyah melalui perwakilan
masing-masing HMJ, sehingga terpilihlah saudara Munzani (TKI07,
lanjutan DII PGMI) untuk menggantikan Muhammad Fadhil. Berselang 2
minggu kemudian kembali dibentuk Komisi Pemilihan Raya fakultas
Tarbiyah, untuk menfasilitasi panitia pelaksana pemira, dimana ketika
itu diketuai oleh Rusda Mulyani (TFS06).
READ MORE,,,
PART II
LALU APA KABAR KAMPUS IAIN AR_RANIRY HARI INI??
Komentar
Posting Komentar